29 September 2008

Sebuah Renungan

8 Kebohongan Mama Karena Mama Mengasihi Kita.

Dalam kehidupan kita sehari - hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya.

Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki - laki di sebuah keluarga yang miskin bahkan untuk makan saja sering kali kekurangan.

Ketika makan, mama sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke piringku, mama berkata,"Makanlah nak, mama tidak lapar."
KEBOHONGAN MAMA YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, mama yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, mama berharap dari hasil pancingan dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan.

Sepulang memancing, mama memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup itu, mama duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan.

Aku melihat mama seperti itu, hatiku juga tersentuh, lalu menggunakan sendokku dan memberikannya kepada mamaku. Tetapi mama dengan cepat menolaknya, ia berkata,"Makanlah nak, mama tidak suka makan ikan."
KEBOHONGAN MAMA YANG KEDUA

Sekarang aku masuk SMP, demi membiayai sekolahku, mama pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup.

Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat mama masih bertumpu pada lilin kecil dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api.

Aku berkata,"Ma, tidurlah, sudah malam, besok pagi mama masih harus kerja." Mama tersenyum dan berkata,"Cepatlah tidur nak, mama tidak capek."
KEBOHONGAN MAMA YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, mama meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, mama yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam.

Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai. Mama dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.

Melihat mama yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk menyuruhnya minum. Mama berkata,"Minumlah nak, mama tidak haus."
KEBOHONGAN MAMA YANG KEEMPAT

Setelah kepergian papa karena sakit, mama yang malang harus merangkap sebagai papa dan mama. Dengan berpegang pada pekerjaan yang dulu, mama harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kitapun semakin susah dan susah.

Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu mama, baik dalam masalah besar maupun masalah kecil.

Tetangga yang ada disebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati mama untuk menikah lagi. Tetapi mama memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, mama berkata,"Terima kasih. Saya tidak butuh cinta."
KEBOHONGAN MAMA YANG KELIMA

Setelah aku tamat dari sekolah dan bekerja, mama yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi mama tidak mau, ia rela pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Aku sering memberikan sedikit uang untuk membantu kebutuhan mama, tetapi mama bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malah mengembalikan uang tersebut. Mama berkata,"Mama punya uang."
KEBOHONGAN MAMA YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, akupun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah bea siswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu.

Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa mamaku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi mama yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku,"Mama tidak terbiasa."
KEBOHONGAN MAMA YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, mama terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra Atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk mama tercinta.

Aku melihat mama yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Mama yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.

Terlihat jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh mamaku sehingga mamaku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap mamaku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat mamaku dalam kondisi seperti ini. Tetapi mama dengan tegarnya berkata,"Jangan menangis anakku, mama tidak kesakitan."
KEBOHONGAN MAMA YANG KEDELAPAN

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, mamaku tercinta menutup matanya untuk terakhir kalinya.

Dari cerita diatas saya percaya, teman - teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan, "Terima kasih mama."

Coba dipikir - pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon papa dan mama kita?
Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan papa dan mama kita?

Ditengah - tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu - ribu alasan untuk meninggalkan papa mama kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan papa dan mama yang ada di rumah.

Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita . Buktinya kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita?
Cemas apakah orang tua kita sudah makan atau belum?
Cemas apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum?
Apakah ini benar?
Coba kita renungkan kembali..... .......

Diwaktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik.

Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.

Ditulis oleh : Liana, by Email.

WELCOME

Selamat Datang Para Ksatria - Ksatria Allah.
Bangkitlah. Majulah Berperang. Sebab Allah Yang Menjadi Panglimamu.
Engkau Bagaikan Anak Panah Ditangan Pahlawan.