30 Mei 2008

Wrong Self-Image will Destroy Your Future
Ps. Indri Gautama




Tuhan kita adalah Tuhan yang baik. Tuhan kita telah menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan: kemenangan, sukacita, pengurapan dan kelimpahan untuk kita bisa hidup, bukan hanya rutin menjalani tugas setiap hari, tapi hidup dalam segala kepenuhannya (Yohanes 10:10). Ini artinya bahwa Tuhan telah mendepositokan benih kebesaran, yang dapat membuahkan berkat-berkat itu, dalam setiap kita.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” (Efesus 1:3)

Jelas tertulis di Alkitab bahwa Anda dapat memiliki semua berkat, hikmat, pengertian dan kemenangan yang Tuhan janjikan untuk Anda. Namun mengapa Anda tidak dapat memperolehnya? Bagaimana benih kebesaran tersebut tidak dapat termanifestasi dalam kehidupan Anda? Perkataan Anda menentukan masa depan Anda. Oleh karena itu perkataan Anda harus selaras dengan Tuhan. Apabila Anda berkata negatif maka perkataan negatif tersebut akan mendatangkan ketakutan atas hidup Anda.

Citra diri Anda terbentuk oleh apa yang Anda pikirkan dan ucapkan akan diri Anda sendiri. Pikiran dan perkataan positif akan membangun diri Anda, dan pikiran dan perkataan negatif akan sebaliknya menghancurkan hidup Anda dengan membuat Anda lupa sama sekali akan janji kebesaran Tuhan.

Perkataan negatif akan membentuk citra diri negatif di diri Anda

Oleh karena itu penting sekali untuk Anda melihat semua tantangan Anda dengan perspektifnya Allah, dan bukan perspektif diri Anda sendiri. Sebab melalui kaca matanya Allah semua yang Anda hadapi bisa berubah. (2 Korintus 4:18). Tuhan melihat diri Anda lebih dari pemenang (THE CHAMPION), ahli waris kerajaaan sorga, kepala dan bukan ekor, sukses dan tidak gagal, memiliki kelimpahan dan tidak kekurangan.

Setiap kegagalan yang terjadi dalam kehidupan Anda mayoritas disebabkan oleh buruknya citra diri yang Anda milki atas diri Anda sendiri.

KESUKSESAN ANDA TIDAK LEBIH TINGGI DARI CITRA DIRI ANDA.

Jadi, bagaimana Anda dapat memperbaiki kehidupan yang buruk dan gagal oleh karena citra diri yang salah yang Anda milki selama ini?

DENGAN MEMPERKATAKAN HAL-HAL YANG POSTIF MENGENAI DIRI ANDA.

Hal-hal positif apa yang dapat kita perkatakan? Firman Tuhan. Sebab Firman Tuhan adalah identitas positif Anda yang orisinal, yang Tuhan mau untuk kita peluk.

Pengakuan & perkataan Firman Tuhan sangatlah berkuasa. Perkataan Firman Tuhan yang Anda ucapkan setiap hari mengenai siapa Anda dalam Kristus akan menghapus gambaran diri Anda yang lama yang selama ini telah tercetak dalam pikiran Anda. Alkitab adalah PENGHAPUS GAMBARAN masa lampau Anda. Dan masa depan Anda ditentukan oleh perkataan yang Anda ucapkan sekarang. Perkataan apakah yang Anda ucapkan tentang diri Anda setiap hari?

Setiap perkataan yang masuk dalam hidup kita adalah seperti benih. Benih itu akan berakar, bekerja dan berbuah yang akhirnya membentuk sebuah potret baru di dalam batin kita. Akibatnya kita mendapat gambaran tentang diri kita dengan memakai potret yang baru. Potret baru ini akan menghapus semua potret citra diri yang lama dan salah dalam kehidupan kita. Yang akibatnya kita dapat melihat seperti Tuhan melihat kita. Oleh karena itu dengan dasar pengetahuan ini kita dapat konklusikan bahwa perkataan Anda tentu menentukan destinasi Anda. Perkataan Anda menentukan arahan hidup Anda.

Anda dapat memberkati atau mengutuk hidup Anda sendiri melalui perkataan yang Anda ucapkan setiap hari. Karena itu ucapakan kata-kata yang sejalan dengan Firman Tuhan. Perkatakan bahwa “Saya diurapi, saya berhikmat dan bijaksana, saya kreatif, saya sukses!” Pakai gambaran citra diri Anda yang baru yang sejalan dengan firman Tuhan.

Kita dapat menghapus semua citra diri yang salah dengan kata-kata iman. Dengan demikian betapa pentingnya perkataan Anda. Perkataan negatif dapat membuat Anda kehilangan semua yang terbaik yang Allah telah sediakan. Oleh karena itu gambaran citra diri Anda ditentukan oleh perkataan Anda.

Karena itu perkatakan hal-hal yang positif setiap pagi dalam kehidupan Anda. Jangan bersifat negatif. Perkatakan dalam hidup Anda benih-benih kebesaran yang Allah telah berikan dalam kehidupan Anda.

Mari umat Tuhan, lihatlah benih kebesaran yang telah tersedia dalam kehidupan Anda yang akan memampukan Anda melihat hal-hal yang baik bagi masa depan Anda. (Roma 4:17)

Why do people fail?

Many people just don’t feel the need to succeed and they are afraid of success. People who have poor self-images will shy away from success.

John C. Maxwell

TIDAK ADA SESEORANG YANG MENGHENTIKAN ANDA MENJADI SEPERTI YANG ALLAH KEHENDAKI SELAIN DIRI ANDA SENDIRI.

Dalam kasih-Nya,
Maria Magdalena Ministries

28 Mei 2008

MOVING TO THE NEXT LEVEL
Ps. Indri Gautama









"Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadanya.” – Mazmur 37:23

Hidup adalah suatu perjalanan menuju kedewasaan. Semua yang ada di sepanjang perjalanan itu adalah bagian dari suatu proses. Pada saat Anda melangkah memasuki tingkatan-tingkatan yang berbeda dari hidup ini, Anda akan mendapat pengetahuan baru dan pengalaman baru. Sewaktu Anda terus maju melangkah, Anda sedang membuat suatu pijakan pada tingkat kedewasaan yang lebih tinggi.

Albert Einstein berkata: “You cannot master a problem at the level where it was created.” Anda tidak bisa menguasai suatu permasalahan jika Anda masih berada pada tingkat di mana permasalahan itu terjadi. Artinya, untuk keluar dari suatu masalah, Anda harus melangkah supaya Anda berada pada tingkat yang lebih tingi dari masalah itu.

Krisis sesungguhnya adalah suatu yang positif. Krisis akan mendesak Anda untuk naik ke tingkat berikutnya. Tetapi Anda sendiri perlu beranjak untuk bisa naik ke tingkat berikutnya. Ini yang disebut moving to the next level.

Tuhan merancang perubahan sebagai suatu proses, bukan sesuatu yang instan. Tuhan jauh lebih tertarik pada perjalanan kita, sebab dalam perjalanan itulah kita mengalami proses perubahan yang membentuk karakter kita. Perjalanan Anda jauh lebih penting daripada hasil akhirnya.

Dan yang membuat Anda bisa berubah adalah firman Tuhan. Karena itu Anda harus menjadi orang yang mencintai firman, yang mau ambil waktu untuk merenungkan dan memperkatakan firman siang dan malam, maka firman akan membuat langkah-langkah dan perjalanan Anda berhasil (Yosua 1:8).

Seorang pengkhotbah besar, Edwin Cole menyatakan: “Perubahan adalah satu-satunya hal yang konstan di dalam hidup ini. Perubahan adalah esensi dari kedewasaan.” Orang Kristen yang tidak mau berubah, tidak akan pernah bertumbuh dewasa.

Nah, bagaimana caranya berubah? Perubahan hanya dapat terjadi pada saat Anda bersedia mengkonfrontasikan keberadaan yang sesungguhnya mengenai diri Anda dengan kebenaran firman Tuhan. Dengan cara ini, Anda akan tahu dengan jelas di mana posisi Anda dibandingkan dengan firman yang Anda baca. Apakah hidup Anda sudah sesuai firman atau belum. Area mana dalam hidup Anda yang perlu diubah. Inilah cara untuk bergerak ke tingkat berikutnya.

Dalam kasih-Nya,
Maria Magdalena Ministries

26 Mei 2008

Musim Persiapan
Ps. Indri Gautama




Setiap tahun kita di Indonesia mengalami dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Negara-negara yang terletak jauh dari garis khatulistiwa, seperti Amerika, Australia dan Eropa memiliki empat musim, yaitu musim gugur, musim dingin, musim semi dan musim panas. Setiap musim memiliki tujuan yang berbeda. Sebagai orang Kristen, kita juga melewati musim-musim yang berbeda.

Pengkotbah 3:1-8 berkata bahwa: Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun dibawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut ….. ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

Anda dan saya diselamatkan Tuhan dan diadopsi menjadi anak-Nya untuksuatu tujuan, yaitu menjadi solusi bagi orang lain. Sebelum tugas dari Tuhan bisa Anda kerjakan dengan berhasil, Anda perlu masuk dalam musim persiapan.

Musim persiapan adalah masa di mana Tuhan menyesuaikan karakter kita dengan tugas besar yang Dia berikan kepada kita. Tokoh-tokoh besar di Alkitab pun mengalami musim yang serupa. Kita ambil contoh dari tiga pemimpin Tuhan di Alkitab:

1. Musa

“Dan sesudah 40 tahun tampaklah kepadanya seorang malaikat di padang gurun gunung Sinai di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Musa heran tentang penglihatan itu, ...... ; karena itu marilah, engkau akan Kuutus ke tanah Mesir.” – Kisah Para Rasul 7:30-34.

Musa dibesarkan dalam hikmat orang Mesir, ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya. Tetapi dibutuhkan 40 tahun musim persiapan bagi Musa di padang gurun untuk tugas besar yang Tuhan percayakan kepada Musa.

2. Yesus

Kita tidak tahu apa yang dialami Yesus selama 30 tahun pertama dalam kehidupan-Nya. Alkitab hanya mencatat kelahiran Yesus, Yesus pada usia delapan hari, Yesus pada usia duabelas tahun. Itu adalah 30 tahun musim persiapan sebelum Yesus masuk dalam pelayanan selama 3½ tahun.

3. Rasul Paulus

Setelah pertemuannya dengan Kristus di jalan lurus menuju Damsyik, dia tidak langsung melayani sebagai rasul. Ia pergi ke tanah Arab selama tiga tahun sebelum ke Yerusalem.

“Juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali ke Damsyik. Lalu, tiga tahun kemudian aku pergi ke Yerusalem……..” – Galatia 1:17-18.

Sukses melalui musim persiapan "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir"
Pengkhotbah 3:11

Mungkin situasi Anda saat ini adalah musim persiapan bagi Anda. Tuhan sedang mempersiapkan hal yang besar di akhir musim ini bagi Anda.

Tidak akan ada laut terbelah jika Musa tidak menghabiskan 40 tahun sebagai gembala dan tidak akan ada roti yang bermultiplikasi jika Yesus tidak sabar selama 30 tahun pertama hidupnya menunggu kebesaran dari Tuhan.

Setiap musim memiliki tujuan untuk tugas yang Tuhan berikan kepada Anda. Supaya tugas yang Tuhan berikan kepada Anda berhasil, Anda harus mengerti musim persiapan ini. Ini adalah musim untuk mempersiapkan diri Anda untuk tugas besar yang Tuhan akan berikan kepada Anda.

Dalam kasih-Nya,
Maria Magdalena Ministries

PEMBAHARUAN PIKIRAN MEMBUKA JALAN BAGI TUHAN






Ps. Indri Gautama


Dan tidak ada seorangpun akan menuang anggur baru ke kantung anggur lama. Jika ia melakukannya, anggur yang baru itu akan memecahkan kulit kantung itu, anggur baru akan terbuang dan kantung anggur itu akan rusak.” – Yohanes 5:37

And no one pours new wine into old wineskins. If he does, the new wine will burst the skins, the wine will run out and the wineskins will be ruined.” – John 5:37 NIV

Barang-barang yang terbuat dari kulit asli seperti sepatu atau tas, memerlukan perawatan khusus agar tetap bagus, tidak pecah dan kaku. Pada jaman Yesus, penyimpanan minuman anggur menggunakan kantung dari kulit lembu, kambing atau domba. Minuman anggur mengandung alkohol yang bersifat mengeringkan, menarik kandungan air dan kelembaban dari sekitarnya. Akibatnya, kantung anggur yang sudah lama dipakai akan menjadi kaku dan kering. Ke dalam kantung anggur seperti itu, tidak bisa dituangkan anggur baru karena kantung yang sudag keras dan kaku itu akan pecah. Anggur yang baru harus dituangkan ke kantung yang baru, yang lentur, fleksibel dan tahan terhadap kekuatan alkohol dari anggur yang baru.

Di dalam kiasan ini, kantung anggur melambangkan pola pikir. Anggur baru adalah semua janji kebesaran dan kemenangan yang Tuhan ingin tuangkan ke dalam kehidupan kita. Melalui perumpamaan ini, Yesus mengatakan kepada kita untuk terus memperbaharui pikiran, karena tanpa pembaharuan pikiran, Tuhan tidak bisa mencurahkan semua yang baik bagi kita.

Semua manifestasi janji kebesaran Tuhan seperti terobosan finansial, keselamatan keluarga, kesehatan emosi dan perubahan karakter; tidak terjadi sampai pola pikir kita mengenai hal itu sejalan dengan apa yang Tuhan katakan. Bahkan untuk seseorang mengalami kelahiran baru pun mengandalkan satu prinsip dasar ini.

Kelahiran baru sebenarnya adalah detik-detik spesial di mana hadirat Tuhan datang dan Roh Kudus menginsyafkan kita. Pola pikir lama kita yang masih suka dosa, diganti dengan pola pikir baru, menjadi kantung anggur baru yang mengerti bahwa Tuhan benci dosa dan ingin berkomitmen menyenangkan Dia selamanya. Akibat pergantian pola pikir ini, hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan. Dan akibat pemulihan hubungan ini, berkat-berkat-Nya tersedia untuk kita terima. “ Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” – Efesus 1:3.

Dengan kata lain, kehidupan ke-Kristenan kita adalah suatu perjuangan besar untuk mengubah pola pikir dunia kita menjadi sama dengan firman-Nya seperti dikatakan oleh Roma 12:2: ” Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Perjuangan ini dijelaskan rasul Paulus di 2 Korintus 10:4-5. “ …..karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,…” Ini memerlukan disiplin dan kerja keras sampai maranatha, sebab yang menghalangi kita bertumbuh adalah pola pikir kita sendiri.

Tuhan sudah mengerjakan bagian-Nya dengan menebus kita dari kuasa Iblis dan memberikan kuasa untuk kita mendapatkan janji-janji-Nya (2 Petrus 1:3-4). Sekarang, giliran kita yang seharusnya rajin memprogram ulang pikiran kita. Pembaharuan pikiran sesuai firman Tuhan membuat kita berada pada posisi yang benar untuk menjadi bejana yang tepat bagi kegerakan Roh Kudus. Ketahui status Anda di dalam Kristus, sebab hanya di dalam Kristus, semua janji yang begitu besar dan berharga itu tersedia bagia setiap orang percaya.

Dalam kasih-Nya,
Maria Magdalena Ministries

25 Mei 2008

MELAYANI ADALAH KUNCI SUKES ANDA

Ps. Indri Gautama






“Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” – Kejadian 1:26-27

Ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia berkata, ”Aku menciptakan manusia untuk berkuasa, untuk bertambah banyak, untuk memenuhi bumi dan menaklukkannya.” Tuhan menciptakan manusia untuk kebesaran dan kesuksesan. Dan untuk itu, Tuhan telah menanamkan benih kebesaran di dalam setiap orang. Dia sudah merajut DNA khusus di dalam manusia yang membuat manusia ingin berhasil dan sukses, tidak terkecuali jenis kelamin, suku, ras atau status sosial.

Bagaimana kita mengembangkan semua benih itu supaya termanifestasi menjadi keberhasilan? Bagaimana seseorang bisa berhasil menurut Tuhan? Lukas 22:24-27 mencatat pertengkaran murid-murid Yesus mengenai siapa dari antara mereka yang paling sukses. Yesus berkata kepada mereka: ” Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan… Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.

Dari sudut pandang dunia, orang dianggap besar bila banyak orang melayaninya. Tetapi di kerajaan Allah, justru sebaliknya. Untuk menjadi besar, Anda harus menghitung berapa banyak orang yang sudah Anda layani.

Apa yang dimaksud dengan melayani? Kata ”melayani” yang dimaksud oleh Yesus mempunyai makna yang dalam, dan tidak identik dengan pembantu. Yang Yesus maksudkan adalah sikap melayani, bukan profesi melayani.

Sikap melayani adalah sikap yang sama sekali tidak mementingkan diri sendiri, tetapi sebaliknya memikirkan apa yang bisa diberikan demi kebaikan orang lain. Pembantu rumah tangga mempunyai profesi melayani, tetapi belum tentu memiliki sikap melayani. Suatu perbedaan yang tampaknya kecil, tetapi berarti di mata Tuhan.

Dengan mengadopsi sikap melayani, Anda sudah secara langsung menyalurkan potensi dan keahlian Anda pada jalur Tuhan – sama seperti ketika murid-murid Yesus menyerahkan lima roti dan dua ikan kepada Yesus. Ketika Anda melayani, Anda sedang mengkontribusikan potensi Anda ke dalam visi Tuhan. Pada waktu itu, Tuhan akan memultiplikasikan potensi dan benih kebesaran itu menjadi sesuatu yang tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya. Anda akan menjadi orang yang diberkati luar biasa.

Dalam kasih-Nya,
Maria Magdalena Ministries
KELUAR DARI SUMUR DENGAN KEMENANGAN

Ps. Indri Gautama






Perjalanan hidup Yusuf adalah cermin dari perjalanan hidup kita untuk mencapai akhir yang sukses seperti yang Tuhan inginkan. Perjalanan Yusuf terdiri dari dua jalur: jalur penderitaan dan jalur kelimpahan. Yusuf harus masuk lebih dulu pada jalur penderitaan sebelum ia berada pada jalur kelimpahan.

Penderitaan Yusuf mungkin menggambarkan pengalaman Anda sekarang. Anda mungkin sedang diperlakukan secara tidak adil oleh orang-orang terdekat Anda. Anda disakiti, dibuang, ditolak, masa depan Anda dicuri. Anda mungkin masuk ke dalam sumur tersinggung ( pit of offence) atau sumur kegagalan ( pit of failure). Di dalam sumur manapun, Anda harus belajar memberikan respon yang tepat untuk bisa mencapai penggenapan janji-janji Tuhan yang luar biasa.

Kita belajar enam hal dari Yusuf yang membuatnya keluar dari sumur dengan kemenangan.

1. Tidak men-toleransi kondisi sumur
Jangan pernah men-toleransi kondisi sumur di mana Anda sedang berada. Kalau kita mentoleransi, artinya kita menerimanya dan memaklumkannya sebagai sesuatu yang wajar. Ketika Anda tidak men-toleransi kondisi Anda di sumur, Anda menciptakan masa depan yang baru.

2. Kenali serangan setan yang mau membatalkan promosi dari Tuhan
Serangan setan selalu datang pada setiap orang yang akan dipromosi oleh Tuhan. Anda memiliki potensi dan setan mau mematikannya. Tetapi ingat, tidak ada mahkota tanpa salib, tidak ada kemenangan tanpa pertentangan.

3. Fokus pada janji Tuhan dan bukan pada apa yang sudah/sedang terjadi
Pecundang fokus pada apa yang dia telah/sedang alami tetapi pemenang fokus pada masa depan, pada ke mana dia akan pergi. Jika Anda ingin keluar dari sumur, fokus pada ke mana Tuhan mau Anda berada bukan pada apa yang Anda sedang alami.

4. Tolak reaksi kepahitan
Sewaktu Anda berada di lubang sumur, bagaimana reaksi Anda terhadap orang yang melempar Anda ke sumur? Reaksi Anda menentukan bagaimana perlakuan Tuhan terhadap Anda. Lukas 6:31 berkata: “ Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka”. Akan tiba harinya, Anda akan tuai apa yang Anda tabur. Jika Anda ingin Tuhan menolong Anda pada waktu Anda sedang dalam masalah, Anda lebih baik menolong orang lain yang sedang dalam masalah terlebih dulu.

5. Ketahui bahwa orang yang menyebabkan Anda menderita tidak mengontrol masa depan Anda
Orang yang menyebabkan Anda menderita saat ini, tidak bisa mengontrol kenikmatanmu di masa depan. Yusuf disakiti, dikhianati dan dijual oleh kakak-kakaknya, tapi mereka tidak bisa mengontrol kebahagiaan Yusuf di masa depannya. Yusuf tetap menjadi penguasa di seluruh tanah Mesir.

Anak-anak orang-orang yang menindas engkau akan datang kepadamu dan tunduk, dan semua orang yang menista engkau akan sujud menyembah telapak kakimu; mereka akan menyebutkan engkau " kota TUHAN", " Sion, milik Yang Mahakudus, Allah Israel." – Yesaya 60:14.

6. Menangkan peperangan dengan iman dan firman
Jika Anda masuk ke sumur, ingat bahwa Anda tidak bisa memenangkan peperangan rohani ini dengan logika. Anda hanya bisa memenangkannya dengan iman dan pengetahuan firman.

Perjalanan hidup Yusuf melalui lubang sumur adalah persiapan pembentukan karakternya untuk sesuatu yang besar yang sedang Tuhan kerjakan. Jika Anda tekun, tabah, setia berjalan dengan Tuhan, dan maju terus selama Anda berada di jalur penderitaan, Anda akan melihat diri Anda masuk di jalur kelimpahan dalam kehidupan Anda.

Dalam kasih-Nya;
Maria Magdalena Ministries

Pencuri Yang Diubahkan



Tukang pajak berbangsa Prusia yang berwajah kejam itu berhadapan muka dengan puteranya yang berusia sepuluh tahun, "Kamu telah mengambil uang yang bukan milikmu, George."

Anak itu menggeliat-geliat di bawah pandangan ayahnya. "Tidak, Ayah," ia menggagap, "saya tidak mengambil uang."

"Sekali ini aku memasang sebuah perangkap," si ayah menjelaskan. "Aku kira kamu telah mencuri uang dari pajak pungutanku, saat itu aku menghitung sejumlah uang dan kemudian menaruhnya di ruangan ini. Sebagian dari uang itu telah hilang. Nah, kucing tidak mungkin mengambilnya."

"Ayah keliru," anak itu memohon.

"Aku tidak keliru. Jika kamu tidak mengakuinya, aku harus menggeledahmu."

Tukang pajak itu menggeledah saku anaknya dan tidak menemukan apa-apa. George tersenyum sendiri.

"Sekarang buka sepatumu," ayahnya memerintahkan.

"Kaki saya sakit. Kalau dibuka nanti sakit."

"Aku katakan, buka."

Anak itu dengan segan membuka sepatunya.

"Sekarang berikan sepatu itu kepadaku."

Anak itu menurut. Senyuman itu samar-samar lenyap dari wajahnya.

"Ah, ini dia. Sekarang, pergilah ke gudang."

"Tetapi, saya minta maaf, Ayah. Saya berjanji tidak akan mencuri lagi."

George Müller menerima hukumannya. Tetapi ia mencuri lagi, mencuri lagi, mencuri lagi - sampai akhirnya hidupnya diubah oleh Kristus.

Ibunya meninggal ketika ia berumur empat belas tahun dan waktu itu ia sedang bersekolah. Pada malam ketika ibunya meninggal, dengan tidak sadar akan penyakit ibunya, George sedang bermain kartu. Hari Minggu, keesokan harinya, ia menghabiskan waktunya bersama-sama dengan beberapa temannya di sebuah kedai minuman.

Tidak berapa lama kemudian ia dibaptiskan di sebuah gereja Lutheran. Ayahnya telah memberinya uang yang banyak untuk membayar gembala jemaatnya. Tetapi George yang licik itu memberi gembala jemaat itu hanya seperduabelas dari jumlah uang itu. "Saya akan berlaku lebih baik," ia berjanji kepada dirinya sendiri pada saat ia mengikuti kebaktian. Tetapi keputusannya itu sia-sia saja.

Tahun berikutnya, ayahnya dipindahkan ke kota Schoenebeck, Prusia. Ia meninggalkan George sendirian di rumahnya yang lama agar mengawasi perbaikan-perbaikan rumahnya dan belajar dengan seorang pendeta, karena George telah membuat keputusan untuk belajar menjadi pendeta. Tetapi ketika tukang pajak itu pergi, George sibuk dengan pekerjaannya yang lain. Ia mengumpulkan uang orang-orang di desanya yang berutang kepada ayahnya, lalu ia melakukan perjalanan yang kemudian ia sebut "dosa enam hari."

Ketika uangnya telah habis, ia pindah ke hotel yang mahal, menginap seminggu, kemudian lari tanpa membayar ongkos-ongkosnya. Ia pindah ke hotel lain, menginap dan bersenang-senang seminggu lamanya, lalu bersiap-siap untuk melarikan diri melalui sebuah jendela. Namun kali ini ia tertangkap. Pada umur enam belas tahun anak tukang pajak itu dipenjara selama dua puluh empat hari.

Setelah ayahnya memberikan uang jaminan untuknya, ia bersekolah di Nordhausen, Prusia. Untuk menyenangkan hati gurunya ia belajar dari jam empat pagi sampai jam sepuluh malam. Gurunya memujinya di kelas sebagai seorang pemuda dengan harapan yang baik dalam pelayanan kependetaan. Walaupun demikian George Müller terus-menerus bermabuk-mabukan dan berfoya-foya. Ia merasa bersalah pada saat ia turut ambil bagian dalam perjamuan Tuhan. "Tetapi satu atau dua hari setelah ikut serta dalam perjamuan Tuhan itu, saya berlaku sama jahatnya seperti sebelumnya," ia menulis dalam catatan hariannya.

Ketika ia berumur dua puluh tahun, ia dianjurkan belajar di Universitas Halle serta diberi hak untuk berkhotbah. Ketika di Halle inilah ia menyadari bahwa ia harus memperbaiki diri seandainya saja ada sebuah jemaat yang memilih dia sebagai gembala jemaatnya. Pada waktu itu ia menganggap pelayanan kependetaan semata-mata sebagai suatu mata pencaharian yang baik, bukan sebagai suatu pelayanan kepada orang-orang yang memerlukan pertolongan.

Ia bertemu dengan seorang teman mahasiswa, bernama Beta yang hidup sebagai orang Kristen yang patut dicontoh. George memilih Beta sebagai teman dekatnya, dengan berpikir bahwa ia memperbaiki hidupnya dengan seorang teman Kristen. Tetapi Beta itu seorang Kristen yang kembali berbuat jahat dan ia bersahabat dengan George hanya karena ia mengira George akan membawanya kepada kesenangan-kesenangan yang lebih banyak.

Dalam bulan Agustus tahun 1825, George Müller, Beta dan dua orang mahasiswa lainnya menggadaikan sebagian milik mereka untuk memperoleh cukup banyak uang untuk bepergian selama beberapa hari. Ketika seorang dari mahasiswa-mahasiswa itu mengusulkan pergi ke Swiss, George yang licik itu sudah mempunyai suatu rencana. Ia hanya duduk saja dan memalsukan surat-surat penting yang diperlukan dari orang tuanya untuk mendapatkan paspor.

Dalam perjalanan itu George menjadi bendahara. Karena ia memang suka mencuri, ia menyelewengkan uang itu supaya teman-temannya membayar sebagian dari ongkos-ongkosnya.

Ketika mereka kembali ke universitas, Beta sangat menyesal dan ia mengakui segala dosanya kepada ayahnya. Kemudian ia mengundang George untuk menghadiri suatu persekutuan doa di rumah seorang teman. Mereka pergi bersama. "Saya belum pernah sebelumnya melihat seorang berdoa berlutut," demikianlah komentar George, yang kemudian menjadi seorang yang terkenal di dunia karena kuasa doanya.

George merasa canggung di dalam persekutuan itu, karena suasananya yang aneh. Ia bahkan meminta maaf atas kehadirannya di sana. "Datanglah sering-sering; pintu dan hati kami terbuka bagi Saudara," tuan rumah itu mengundangnya dengan senang hati.

Setelah dua lagu pujian, satu pasal dari Alkitab dibacakan. Kemudian lagu pujian lainnya dan pada saat tuan rumah itu berdoa, suatu perasaan sukacita dan damai timbul dalam hari George Müller. Dalam perjalanan pulang, dengan penuh kegembiraan ia berkata kepada Beta, "Segala kesenangan kita yang dulu itu tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang kita alami malam ini."

Kristus telah menyentuh hati George Müller di persekutuan doa itu dan sejak saat itu ia menjalani kehidupan yang telah diubah.

Kemudian ia pindah ke Inggris, di mana ia menjadi terkenal sebagai orang yang beriman. Ia mendirikan lima buah Panti Asuhan di Bristol yang dapat menampung dua ribu orang anak. Selama hidupnya ia mengurus 9975 orang anak yatim piatu dan menerima lima puluh ribu jawaban khusus bagi doanya.

Inilah kisah orang yang tidak pernah melihat seorang Kristen berdoa berlutut sampai ia berusia dua puluh satu tahun.

Sumber : Bagaimana Tokoh-tokoh Kristen Bertemu dengan Kristus
Oleh : James C Hefley
Diterjemahkan oleh : Junny J. Suliman
Penerbit : Kalam Hidup, Bandung

Sandal Kulit Sang Raja



Seorang Maharaja akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru beberapa meter berjalan di luar istana, kakinya terluka karena terantuk batu. Ia berpikir, "Ternyata jalan-jalan di negeriku ini jelek sekali. Aku harus memperbaikinya."

Maharaja lalu memanggil seluruh menteri istana. Ia memerintahkan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negerinya dengan kulit sapi yang terbaik. Segera saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan. Mereka mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri.

Di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa itu, datanglah seorang pertapa menghadap Maharaja. Ia berkata pada Maharaja, "Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja."

Konon sejak itulah dunia menemukan kulit pelapis telapak kaki yang kita sebut "Sandal".

Renungan :

Ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkala kita harus mengubah cara pandang kita, hati kita dan diri kita sendiri, dan bukan dengan jalan mengubah dunia itu.

Karena kita seringkali keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia dalam pikiran kita terkadang hanyalah suatu bentuk personal. Dunia kita artikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tak ada orang lain yang terlibat di sana, sebab seringkali dalam pandangan kita, dunia adalah bayangan diri kita sendiri.

Ya, memang jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu. Manakah yang kita pilih, melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita tak pernah merasakan sakit, atau melapisi hati kita dengan kulit pelapis agar kita dapat bertahan melalui jalan-jalan itu?

- Jawaban.com -

Paku


Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah...

Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah... Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sudah bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidakmarah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar.

"Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang lalu mencabut pisau itu... Tetapi tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada... dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik..."


- Jawaban.com -

Setiap Langkah adalah Anugerah



Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana, ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi.

Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas.

Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Namun kemudian ia selalu kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

"Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu?" tanya sang professor.

"Melakukan apa?" tanya Ralph.

"Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu?" desak sang professor.

"Oh", kata Ralph, "Selama perang... Saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal."

Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

"Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah," katanya. "Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya."

"Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini. Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain."

Nilai manusia tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup. Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan. Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan bersyukurlah setiap saat. Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini. Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri...

- Jawaban.com -

Kekuatan Pujian


Ini kisah nyata tentang seorang penyanyi terkenal di Eropa, wanita bersuara bagus. Dia bersuamikan seorang pemusik dan seorang pengarang lagu. Begitu pandainya sang suami ini tentang lagu, nada, birama dan hal lain di bidang musik, sehingga dia selalu menemukan apa yang harus dikoreksi ketika istrinya menyanyi.

Kalau istrinya menyanyi, selalu saja ada komentar dan kritik seperti; bagian depan kurang tinggi. Lain kali dia berkata, bagian ini kurang pelan. Kali lain dia mengkritik, bagian akhir harusnya "kres", naik sedikit. Selalu saja ada komentar pedas yang dia lontarkan kalau istrinya menyanyi dan bersenandung. Akhirnya wanita itu malas menyanyi. Dia mengambil keputusan, "Wah, tidak usah menyanyi saja, jika semua salah. Malah kadang menjadi pertengkaran..."

Singkat cerita, karena suatu musibah, sang suami meninggal dan lama setelah itu si wanita menikah lagi dengan seorang tukang ledeng. Tukang ledeng ini tidak tahu menahu soal musik. Yang ia tahu istrinya bersuara bagus dan dia selalu memuji istrinya kalau bernyanyi.

Suatu ketika istrinya bertanya, "Pa, bagaimana laguku?"

Dia menjawab antusias, "Ma, saya ini selalu ingin cepat pulang karena mau dengar engkau menyanyi."

Lain kali dia berkata, "Ma, kalau saya tidak menikah dengan engkau, mungkin saya sudah tuli karena bunyi dentuman, bunyi gergaji, bunyi cericit drat pipa ledeng, gesekan pipa ledeng dan bunyi pipa lainnya yang saya dengar sepanjang hari kalau saya bekerja. Sebelum saya menikah dengamu, saya sering mimpi dan terngiang-ngiang suara gergaji yang tidak mengenakkan itu ketika tidur. Sekarang setelah menikah dan sering mendengar engkau menyanyi, lagumulah yang terngiang-ngiang."

Istrinya sangat bersukacita, tersanjung. Hal itu membuat dia gemar bernyanyi, bernyanyi dan bernyanyi. Mandi dia bernyanyi, masak dia bernyanyi dan tanpa disadarinya dia berlatih, berlatih dan berlatih. Suaminya mendorong hingga dia mulai rekaman dan mengeluarkan kaset volume pertama yag ternyata disambut baik oleh masyarakat.

Wanita itu akhirnya menjadi penyanyi terkenal, dan dia terkenal bukan pada saat suaminya ahli musik, tetapi saat suaminya seorang tukang ledeng, yang dengan setia memberinya pujian ketika dia bernyanyi.

Sedikit pujian memberikan penerimaan. Sedikit pujian memberikan rasa diterima, memberikan dorongan, semangat untuk melakukan hal yang baik dan lebih baik lagi. Sedikit pujian dapat membuat seseorang bisa meraih prestasi tertinggi. Omelan, bentakan, kecaman, amarah atau kritik sesungguhnya tidak akan banyak mengubah.


- Jawaban.com -

22 Mei 2008

Renungan

Tiga Sifat Dasar Manusia


Manusia Mempunyai Tiga sifat yang sangat mendasar. Bahkan ALKITAB mencatat Dua dari sifat ini dapat membuat atau menyebabkan kehancuran bagi Generasi tersebut.
Kita akan mempelajari ketiga sifat ini secara ringkas.


The Camper

Bilangan 32 : 1 - 5
The Camper atau orang yang berkemah, jika kita mengartikan secara biasa. Namun Alkitab menulis The Camper melambangkan orang yang berpuas diri dengan apa yang diperoleh sekarang ini. Ada yang berpuas diri dengan Karunia - karunianya. Ada yang merasa puas dengan berkat, padahal yang Tuhan inginkan kita tetap haus dan lapar akan DIA. Jangan hanya puas dengan berkatNya. Jangan puas dengan karunia yang Tuhan beri. Tapi kita harus memperoleh hati Sang Pemberi Berkat. Sang Pemilik Karunia. Dialah Yesus Kristus Tuhan Semesta Alam.

The Loser
Bilangan 13 : 27 - 29
Kalah sebelum berperang adalah kata yang cocok bagi orang - orang ini. Saat Musa mengutus 12 orang pengintai untuk mengintai tanah Kanaan. Saat mereka kembali, kesepuluh orang pengintai menceritakan apa yang mereka lihat. Mereka berkata bahwa orang Kanaan adalah orang orang raksasa, hingga menyebabkan ketakutan seluruh bangsa. Orang - orang ini adalah orang yang tidak percaya dengan Kuat GagahNya Tuhan.
Mereka ragu dangan kemampuannya sendiri, bahkan mungkin meragukan kekuatan Tuhan.
Padahal Tuhan sudah janjikan bahwa pencobaan yang kita alami, tidak akan melebihi kekuatan kita.
Adakah dari kita termasuk dalam Kelompok ini, The Loser??
Jika iya.. Bertobatlah. Sebab Tuhan Allahmu adalah Allah Yang Perkasa.

The Winner
Hakim Hakim 11 : 1 - 11
Sifat yang terakhir adalah The Winner. Orang yang menang dalam semua aspek kehidupannya. Karena apa?? Karena orang - orang ini selalu membawa semua perkaranya, baik itu kecil maupun besar, ke hadapan Tuhan. Dan percaya bahwa Tangan Kuat Tuhan sanggup membuat segala sesuatu itu mungkin.

Seperti Yefta, saat dia dipilih untuk memimpin Bangsa Israel berperang. Yefta menyanggupinya dan.. Ingat kata - kata ini, "[11b] ... Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa." Dan apa efeknya??? Tuhan memberi kemenangan kepada Yefta atas Amon.

Dan kini saudaraku yang terkasih didalam Kasih Kristus. Manakah yang kau pilih???
Apakah kau ingin menjadi The Camper, The Loser atau The Winner??
Itu pilihanmu....

Johkie Jonathan Huang, HambaNya


Tuhan Memberkati...



21 Mei 2008

Kesaksian

George Whitefield, Peniru Gerak Gerik Pendeta

"Saudara-saudara yang kekasih, dengarlah kata-kata yang keluar dari mulut saya. Saya membawa pesan Allah Yang Maha kuasa." Orang-orang yang berkumpul di kedai minuman itu tertawa terbahak-bahak. "Bagus, Nak! Bagus!" teriak seorang pria gemuk pendek sambil mengangkat gelas birnya. "Seandainya aku tidak melihatmu, Nak, aku mungkin tertipu," kata seorang langganan lainnya. "Kukira Pendeta Cole tua yang membentak-bentak di kedai minuman ibumu."

George Whitefield muda, yang baru berumur lima belas tahun itu, melakukan tipuannya yang paling disukai, yaitu menirukan Bapak Cole, Pendeta Southgate Chapel di Gloucester, Inggris. Menirukan pendeta di daerahnya telah menjadi suatu hiburan yang dilakukannya setiap malam sementara ia mengurus kedai itu untuk ibu dan ayah tirinya.

Bakat George Whitefield dalam hal menirukan dan bermain sandiwara itu terkenal di daerahnya. Di sekolah, ia selalu disuruh mengucapkan pidato apabila bapak walikota mengadakan kunjungan tahunannya. Kadang-kadang ia membolos dari sekolah beberapa hari berturut-turut untuk latihan sandiwara.

Ketika ia mencapai umur lima belas tahun, ia berhenti sekolah. Ibunya mengatakan bahwa ia diperlukan untuk membantu di kedai keluarganya itu. Demikianlah, pemuda yang kelak menjadi penginjil yang terkenal di dunia tersebut menghabiskan waktunya setiap sore dan malam dengan mengepel lantai, menghidangkan bir, dan menirukan Bapak Cole, sang pendeta.

Pada suatu malam, George dan teman-temannya masuk serta mengganggu kebaktian yang dipimpin oleh pendeta itu. Dengan berteriak-teriak, ""Bapak Cole Tua! Bapak Cole Tua!", anak-anak lelaki itu hampir mengubah kebaktian itu menjadi kekacauan. Apa yang tidak diketahui oleh teman-teman George dan langganan-langganan kedai itu ialah bahwa di dalam hatinya, George sungguh-sungguh tertarik akan khotbah-khotbah Bapak Cole. Sering kali setelah kedai minuman itu ditutup, pemuda itu duduk sampai jauh malam membaca Alkitab.

Pada suatu hari, seorang temannya mampir ke kedai itu dan menyarankan agar George memikirkan untuk pergi ke Oxford. ""Kamu dapat melanjutkan pendidikanmu dengan bekerja keras.""

George berkonsultasi dengan ibunya, dan disetujui bahwa ia sebaiknya kembali ke sekolah serta menyelesaikan pelajaran-pelajarannya agar dapat memenuhi syarat untuk masuk ke universitas.

Ketika pelayan kedai yang masih muda itu akhirnya sampai di Oxford, ia bertemu dengan John dan Charles Wesley. Kedua bersaudara itu telah membentuk "Perkumpulan Suci" yang disebut oleh mahasiswa-mahasiswa yang suka mengejek sebagai "Perkumpulan Orang Saleh", "Kutu-kutu Alkitab", "Fanatik-fanatik Alkitab", dan paling sering "Kaum Metodis", karena acara kebaktian rutin dan teratur yang mereka ikuti. Meski demikian, George tertarik oleh kebiasaan-kebiasaan agama yang sangat ketat dan ibadah yang dipatuhi oleh kedua bersaudara Wesley. Dalam tahun kedua di Oxford, ia menjadi anggota perkumpulan itu, serta bersumpah akan hidup sesuai dengan peraturan yang ada.

Ia berpuasa serta berdoa sama salehnya seperti anggota-anggota "Perkumpulan Suci" lainnya. Tetapi alangkah kecewanya, ia tidak menemukan damai di dalam jiwanya.

Charles Wesley meminjamkan sebuah buku kepadanya, yang berjudul "Kehidupan Allah di Dalam Jiwa Manusia". Ajaran-ajaran dalam buku itu seolah-olah merupakan berkas-berkas cahaya yang menyinari hati pemuda Whitefield. ""Allah telah menunjukkan kepadaku bahwa agama yang benar merupakan kesatuan jiwa dengan Allah, dan Kristus menyatakan diri dalam hati kita," yang kemudian ditulis Whitefield.

Dalam mencari agama yang benar ini, George Whitefield membiasakan dirinya berdoa dengan tekun. Setiap malam, ia mengeluh dan mengerang di tempat tidurnya, sambil memerintahkan iblis agar pergi dari padanya. Ia mencoba hidup dengan menahan lapar dan memberikan hampir semua uangnya kepada orang miskin. Ia memakai sarung tangan wol yang kasar, pakaian yang penuh tambalan, dan sepatu kotor. Akhirnya, karena ia mencari kesatuan dengan Allah secara terburu-buru dan dipaksakan, ia menjadi sakit. Kemudian pada suatu hari, ia ingat bahwa pernyataan Yesus akan rasa haus-Nya terjadi pada saat Ia tergantung di salib. Penderitaan-penderitaannya hampir berakhir, tiba-tiba Whitefield yang masih muda itu menjatuhkan dirinya di tempat tidur. ""Aku haus! Aku haus!" teriaknya.

Kemudian ia bersaksi mengenai apa yang dialaminya. "Tidak lama setelah itu, aku merasa dalam diriku bahwa aku dibebaskan dari beban. Perasaan duka telah diangkat dari dalam diriku, dan aku tahu apa yang menyebabkan aku sungguh-sungguh bersukacita di dalam Allah penebusku."

Baru setahun kemudian, Whitefield menyampaikan khotbahnya tentang doktrin "kelahiran baru"-nya di gereja-gereja terbesar di kota London. Seluruh Inggris segera menjadi gempar mendengar pengkhotbah muda yang bersuara emas itu. Atas undangan Wesley bersaudara, Whitefield pergi ke Amerika. Ia memimpin kebangunan rohani yang dramatis di Georgia. Ketika kembali ke Inggris, ia mendapatkan dirinya lebih terkenal daripada sebelumnya. Pada saat gereja negara yang merasa dipermalukan itu menutup pintu baginya, Whitefield pindah ke lapangan-lapangan dan berkhotbah kepada orang banyak yang berjumlah tiga puluh ribu atau lebih. Banyak pendengarnya mengalami kelahiran baru.

Ia pergi kembali ke Amerika. Pelayanannya demikian berhasil, bahkan Benyamin Franklin yang skeptis itu menyatakan, "Rupa-rupanya seluruh dunia menjadi saleh." George Whitefield baru saja berumur dua puluh enam tahun pada waktu itu. Whitefield berkhotbah selama tiga puluh tahun lagi kepada kumpulan banyak orang. Ia bolak-balik menyeberangi Atlantik. Ia terus berdoa bagi mereka yang belum mau memedulikan panggilan Kristus.

Pada tahun 1770, ia meninggal dunia ketika sedang berkhotbah. Ia sangat lelah dan tidak memedulikan dirinya lagi. Ketika sedang berkhotbah, ia berbalik sambil mengangkat kedua tangannya dan berkata, "Aku lelah, ya Tuhan!" kemudian Whitefield meninggal di atas mimbar. Lord Bolingbroke, bangsawan yang skeptis itu, menyebut dia sebagai "orang yang paling luar biasa pada zaman kita".


Disadur Dari : Kumpulan Khotbah

Renungan

1Yohanes 4:1-3

KITAB YANG HILANG?

Setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus

(1Yohanes 4:3)

Setiap orang menyukai cerita yang bagus, namun banyak orang menganggap novel terlaris The Da Vinci Code sebagai fakta sejarah.

Alur cerita utama dalam buku itu adalah adanya dugaan bahwa kitab yang hilang dari Alkitab telah dirahasiakan oleh gereja selama berabad-abad. Kitab-kitab yang hilang ini menyatakan bahwa Yesus menikahi Maria Magdalena dan memiliki beberapa anak dari pernikahan itu. Hal ini sama sekali tidak mengungkapkan sejarah dan menyesatkan banyak orang.

Kitab-kitab yang diduga sebagai kitab-kitab yang hilang dari Alkitab ini ditemukan di Nag Hammadi, Mesir, pada tahun 1945. Kitab-kitab ini menyangkal kealkitabiahan Yesus dan mengembangkan penyembahan terhadap dewa-dewa, pendewaan diri sendiri, dan informasi rahasia.

Lalu mengapa gereja tidak memasukkan kitab-kitab ini ke dalam Alkitab? Karena dokumen-dokumen di dalamnya tidak memenuhi kriteria keaslian Kitab Suci, yang melibatkan beberapa pertanyaan utama: Apakah penulisnya adalah seseorang yang telah dipilih Yesus sebagai seorang rasul? Apakah kitab tersebut diterima secara luas di kalangan para pemimpin gereja? Apakah Roh Allah berbicara melalui kitab itu? Kitab-kitab yang hilang itu tidak lolos tes ini. Namun, semua kitab yang kita miliki di dalam Perjanjian Baru lulus tes ini.

Ketika banyak orang mempertanyakan keabsahan Kitab Suci, kita perlu memberi mereka jawaban yang terhormat dan jelas. Hal itu mungkin akan membuat mereka ingin lebih mengenal Alkitab kita dan Allah kita.

17 Mei 2008

Renungan

Penyembahan Hati
Mazmur 57:2
Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku.

Pemimpin pujian yang hebat mengerti bagaimana caranya masuk ke dalam hadirat Tuhan dengan segala keberadaan mereka, bagaimana mereka mempersiapkan diri dalam pujian dan penyembahan (lihat Ulangan 10:12). Mereka tidak hanya sekedar bangun di pagi hari, membersihkan diri lalu menyisir rambut mereka sebelum mereka pergi ke gereja. Mereka mengerti bahwa pengurapan datang dari pengejaran yang tulus akan kasih Tuhan dengan segenap hati mereka.

Demikian halnya saat Anda datang pada Tuhan di pagi hari, Anda datang dengan sikap hati yang penuh dengan penyembahan, menyatakan pengagungan dan ucapan syukur atas kesetian-nya atas hidup Anda. Tuhan berjanji tidak akan pernah meninggalkan Anda dan akan senantiasa menyertai Anda sepanjang hari (lihat Yosua 1:5).

Miliki Saat Teduh

Mazmur 19:9-10
Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.

Terkadang saya menyediakan waktu sampai seharian penuh hanya untuk berdiam diri dengan Tuhan. Saya menghentikan semua aktivitas saya dan mulai mencari Dia. Saya tahu saya tidak akan bisa mulai mendengar suara Tuhan jika saya tidak memiliki saat teduh dengan-Nya.

Sangat penting untuk memiliki saat teduh dan menyendiri bersama-Nya. Anda mungkin berpikir bahwa Anda tidak memiliki banyak waktu, namun jika ada orang yang memberikan sembako di mall senilai seribu dolar secara cuma-cuma, Anda pasti akan menemukan waktu untuk pergi ke sana. Jangan habiskan waktu Anda hanya dengan melakukan seluruh aktivitas Anda, namun berdiam dirilah sehingga Anda siap mendapat perhatian dari Tuhan.

Tingkatkan Efektifitas Hari Anda

Mazmur 33:18-19
Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.

Saat saya berbicara tentang mencari Tuhan terlebih dahulu, banyak orang yang berpikir bahwa mereka harus bangun pukul tiga pagi!! Saya tidak berbicara mengenai bagaimana Anda melakukannya. Saya bahkan tidak menyarankan Anda untuk berdoa selama satu jam. Saya hanya mengatakan jika Anda ingin menikmati seluruh hari Anda dalam kebaikan, Anda harus memiliki waktu mencari hikmat Allah di pagi hari.

Memiliki waktu dengan Tuhan menambahkan tahun hidup Anda! Tuhan ingin sekali memberikan pengetahuan dan pemahaman-Nya kepada kita. Firman-Nya berkata, "Karena oleh aku (hikmat dari Allah) umurmu diperpanjang, dan tahun-tahun hidupmu ditambah" (Amsal 9:11).

Renungan Hari Ini. Sabtu, 17 Mei 2008


1Korintus 4:14-17

PERHATIKAN SAJA

Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus

(1Korintus 11:1)

Seorang anak laki-laki memandang kakeknya dan melontarkan pertanyaan dengan lantang, Kek, bagaimana Kakek menjalani hidup bagi Yesus? Kakek yang dihormati itu membungkuk dan berbisik kepada anak laki-laki tersebut, Perhatikan diriku saja.

Tahun berganti tahun, kakek itu memberikan teladan bagi anak tersebut untuk mengikuti Yesus. Ia tetap teguh menjalani hidup bagi-Nya. Namun, cucunya acap kali hidup dengan cara yang tidak menyenangkan Allah.

Pada suatu hari anak muda tersebut mengunjungi kakeknya dan mereka menyadari bahwa itu adalah kunjungan terakhir. Saat kakeknya terbaring tak berdaya, sang cucu membungkuk ke arah tempat tidur dan mendengar kakeknya berbisik, Apakah kamu telah memerhatikan aku?

Itulah saat yang menentukan dalam kehidupan anak laki-laki tersebut. Ia mengerti bahwa saat kakeknya berkata, Perhatikan diriku saja, ia bermaksud, Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus (1Korintus 11:1). Ia berjanji bahwa sejak saat itu ia akan hidup seperti kakeknyaberjuang untuk menyenangkan Yesus. Ia telah memerhatikan dan sekarang ia tahu bagaimana ia harus hidup.

Apakah ada seseorang yang memerhatikan Anda? Apakah ada kaum muda kristiani yang perlu melihat bahwa hidup bagi Yesus setiap hari dan dalam segala hal adalah sesuatu yang mungkin untuk dilakukan? Tantanglah merekadan juga diri Anda sendiri. Tantanglah mereka untuk memerhatikan. Lalu tunjukkan caranya kepada mereka.


Disadur Dari Renungan Harian.

WELCOME

Selamat Datang Para Ksatria - Ksatria Allah.
Bangkitlah. Majulah Berperang. Sebab Allah Yang Menjadi Panglimamu.
Engkau Bagaikan Anak Panah Ditangan Pahlawan.