03 Maret 2009

Kebutuhan vs keinginan
Bilangan 11:16-35

Tuhan menjawab dua masalah besar yang timbul di tengah perjalanan umat Israel. Krisis ketahanan kepemimpinan Musa, dan sungut-sungut bangsa Israel menginginkan daging untuk makan. Karena kedua krisis itu berakar pada kurangnya iman pada pemeliharaan Allah maka jawaban Tuhan mengandung hukuman juga!

Tuhan menjawab Musa lebih dulu. Meski bangsa Israel tidak meminta, tetapi Tuhan tahu bahwa Musa membutuh-kannya. Karena itu, Ia mengirimkan tujuh puluh orang tua-tua untuk menolong Musa. Karena tugas mereka tidak mudah, tentu mereka membutuhkan urapan Roh Tuhan. Maka Tuhan mengambil sebagian Roh yang ada pada Musa dan menaruhnya atas mereka (24-30). Dengan keterlibatan tujuh puluh orang pemimpin pembantu dengan urapan Roh, maka beban Musa diringankan. Orang Israel tidak harus semata bergantung pada Musa untuk mendengarkan ajaran dan arahan dari Tuhan. Musa menunjukkan sikap seorang pemimpin yang sedia berbagi wewenang dan peran (29). Suatu prinsip yang harus dianut oleh semua pemimpin Kristen masa kini.

Tuhan tak menutup telinga terhadap keluhan Israel. Ia berjanji akan membuat bangsa itu makan daging selama sebulan (19-20). Menyadari banyaknya orang yang harus dipenuhi keinginannya, Musa sempat bingung. Tetapi Tuhan mengingatkan Musa akan kemahakuasaan-Nya (21-23). Musa akan melihat bagaimana Allah menggenapi firman-Nya. Dengan cara-Nya yang ajaib, Tuhan mengirimkan burung puyuh. Namun jawaban Tuhan tidak mengurangi ketamakan mereka. Akibatnya Allah menghajar mereka dengan tulah yang sangat besar (33).

Kebaikan Allah yang melimpah, baik dalam menyelamatkan maupun dalam memelihara, membuat kita memandang Allah seolah pelayan kita. Kita harus tahu menempatkan kebutuhan dan keinginan di bawah kehendak Allah. Kita bahkan perlu membedakan keinginan dari kebutuhan, dan dalam segala keadaan tidak mendikte atau memaksa Allah.

Sumber : Sabda
Jangan sungut-sungut!
Bilangan 11:1-15

Perkara ajaib yang Allah lakukan bagi Israel sejak mereka keluar dari Mesir, ternyata mudah lekang dari ingatan mereka. Sehingga ketika menghadapi sedikit masalah saja, mereka sudah bersungut-sungut kepada Tuhan (1). Mungkin mereka merasa tidak puas dengan keadaan mereka saat itu. Perjalanan panjang itu memang tidak mudah. Tetapi betapa berdosanya bila mereka bersungut-sungut pada Allah. Artinya mereka tidak menghargai apa yang telah Allah perbuat! Itu juga menandakan ketiadaan iman mereka bahwa Allah berkuasa! Tuhan pun menghajar mereka dengan api! Api, yang sebelumnya menjadi tanda penyertaan Tuhan, saat itu bagai cambuk yang menghukum mereka.

Ternyata hukuman Tuhan yang pernah mereka alami, tidak membuat mereka jera. Israel kembali bersungut-sungut karena ingin makan daging (4-6). Mereka bosan makan manna. Mereka tidak puas dengan pemberian Allah pada mereka, karena itu mereka menangis! Bayangkan, satu bangsa hanya bisa menangis karena ingin makan daging! Sementara mereka tidak melakukan upaya apa pun untuk memenuhi keinginan mereka. Mereka juga menyesali kepergian mereka dari Mesir. Itu membuat mereka melupakan pengharapan akan Tanah Perjanjian, tanah tempat susu dan madu. Mereka hanya bisa menangis! Tangisan mereka kemudian memengaruhi Musa. Ia mengeluh pada Tuhan karena merasa tak sanggup mengatasi masalah itu sendirian (10-15). Semua itu bagaikan hukuman yang harus dia jalani. Ia merasa lebih baik mati, daripada harus menanggung beban yang demikian berat. Musa gagal memercayai bahwa Tuhan sanggup memelihara.

Di hadapan Tuhan, sungut-sungut merupakan kesalahan yang bisa mengundang murka Tuhan dan mendatangkan hukuman. Sungut-sungut menunjukkan hilangnya percaya dan penghargaan terhadap Tuhan. Hidup memang kadang bisa menekan dan mendesak kita. Tetapi jangan pernah kehilangan harapan dan meragukan kasih Tuhan. Hiduplah tetap dalam pengharapan!

Sumber : Sabda

WELCOME

Selamat Datang Para Ksatria - Ksatria Allah.
Bangkitlah. Majulah Berperang. Sebab Allah Yang Menjadi Panglimamu.
Engkau Bagaikan Anak Panah Ditangan Pahlawan.